Warga Long Ranau Andalkan Daun Kecama untuk Obati Kurap

1777271059538.jpeg


Long Ranau — Di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pedalaman, masyarakat Desa Long Ranau, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, mengandalkan tanaman lokal bernama kecama atau ketepeng sebagai obat utama untuk mengatasi penyakit kurap.

Tanaman yang tumbuh liar di sekitar permukiman itu telah lama digunakan secara turun-temurun. Hingga kini, praktik tersebut tetap bertahan dan menjadi pilihan utama warga saat mengalami infeksi jamur kulit.

Ketua RT setempat, Pren, mengatakan penggunaan kecama sudah menjadi kebiasaan masyarakat.

“Kalau kena kurap, warga pasti pakai kecama. Daunnya tinggal dipetik, diremas, lalu dioles ke kulit,” ujar Pren saat ditemui di Long Ranau.

Menurut dia, penggunaan biasanya dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore, hingga kondisi kulit membaik.

Kurap merupakan infeksi jamur kulit yang umum terjadi di daerah tropis dengan tingkat kelembapan tinggi. Dalam dunia medis, penyakit ini disebabkan oleh kelompok jamur dermatofit seperti Trichophyton dan Microsporum.

Ketergantungan masyarakat terhadap pengobatan tradisional tidak terlepas dari keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan dan obat-obatan modern di wilayah tersebut.


Meski demikian, penggunaan daun ketepeng oleh masyarakat Long Ranau sejalan dengan temuan ilmiah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tanaman dengan nama ilmiah Cassia alata L. memiliki aktivitas antijamur.

Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Medical and Pharmaceutical Studies melaporkan bahwa ekstrak daun ketepeng mampu menghambat pertumbuhan jamur penyebab kurap, termasuk Trichophyton rubrum dan Microsporum canis. Selain itu, penelitian lain di Indonesia juga menemukan efektivitas ekstrak tanaman ini terhadap dermatofit seperti Trichophyton mentagrophytes.

Para peneliti menyebutkan bahwa kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan anthraquinone dalam daun ketepeng berperan dalam merusak struktur sel jamur serta menghambat pertumbuhannya.

Dalam perkembangannya, pemanfaatan daun ketepeng tidak hanya terbatas pada praktik tradisional. Sejumlah penelitian di bidang farmasi telah mengembangkan ekstrak tanaman ini dalam bentuk krim dan salep antijamur.

Pemanfaatan kecama oleh masyarakat Long Ranau mencerminkan kuatnya peran pengetahuan lokal dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dasar. Di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan masih terbatasnya jangkauan layanan kesehatan di wilayah pedalaman.

Bagikan post ini: